Banda Aceh (Media FST) - Policy brief ini ditulis oleh Tim Peneliti sebagai salah satu output Penelitian Terapan Kajian Strategis Nasional yang dibiayai oleh DIPA UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada tahun 2025, Nurhayati S.Si., M.Si (ketua peneliti), Diannita Harahap, M.Si dan Maula Safrina (anggota peneliti).
Limbah organik khususnya rambut manusia, ampas kopi, dan minyak jelantah merupakan masalah lingkungan yang signifikan di perkotaan Indonesia, termasuk Banda Aceh. Penelitian ini berhasil mengembangkan biokomposit multifungsi dari ketiga limbah tersebut dengan sifat mekanis dan fungsional yang kompetitif. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa formula biokomposit 1 (dominasi ampas kopi) memiliki kekuatan tarik tertinggi sebesar 1,23 kgf/mm² dan struktur paling homogen. Temuan ini membuktikan bahwa limbah organik tidak hanya dapat dikelola, tetapi juga diubah menjadi material bernilai tambah tinggi. Untuk mendorong adopsi temuan ini, diperlukan integrasi kebijakan yang meliputi penguatan sistem pengumpulan limbah, insentif industri hijau, dan regulasi pendukung material berkelanjutan.
LATAR BELAKANG
Permasalahan limbah organik di Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan seperti Banda Aceh, telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa ratusan ton minyak jelantah dan ampas kopi terbuang setiap tahunnya (Abubakar, Y., Noviasari, S., & Khaira, 2023; Ananta et al., 2024). sementara limbah rambut dari salon terus menumpuk tanpa solusi pengelolaan yang efektif. Di sisi lain, komitmen Pemerintah Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) menekankan pentingnya pengelolaan limbah dan pengembangan material berkelanjutan (Mishra & Kim, 2024).
Penelitian ini merespons tantangan tersebut dengan mengembangkan biokomposit dari tiga jenis limbah organik—rambut manusia (sumber keratin), ampas kopi (sumber serat lignoselulosa), dan minyak jelantah (sebagai plastisizer alami). Tujuannya adalah menciptakan material fungsional yang tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis ekonomi sirkular.
METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan pendekatan eksperimental melalui tahapan berikut:
- Preparasi Bahan: Ampas kopi dikeringkan (60 °C, 24 jam) dan diayak (100–200 µm), rambut dipotong (5–10 mm), minyak jelantah disaring.
- Formulasi Biokomposit: Tiga variasi komposisi dibuat menggunakan matriks PVA, gliserol, dan Tween 80.
- Karakterisasi Material: a) FTIR untuk mengidentifikasi gugus fungsi dan interaksi kimia; b) SEM-EDS untuk menganalisis morfologi dan komposisi unsur dan c) uji tarik dengan mengukur kekuatan tarik elongasi, dan modulus Young.
Dalam penelitian ini, dibuat tiga variasi formulasi biokomposit dengan komposisi yang berbeda untuk menguji pengaruh rasio bahan baku limbah terhadap sifat akhir material (Kamarudin et al., 2022). Biokomposit 1 diformulasikan dengan dominasi ampas kopi, menggunakan 20 gram ampas kopi kering, 4 gram rambut, dan 8 gram minyak jelantah. Biokomposit formula 2 dirancang dengan komposisi yang lebih seimbang, yaitu 12 gram ampas kopi, 12 gram rambut, dan 8 gram minyak jelantah. Sementara itu, biokomposit formula 3 dibuat dengan dominasi serat rambut, yang terdiri dari 4 gram ampas kopi, 20 gram rambut, dan 8 gram minyak jelantah. Ketiga formula tersebut menggunakan basis matriks yang sama, yaitu 10 gram Polivinil Alkohol (PVA), 70 mL aquades, 0,6 gram Tween 80, dan 3 gram gliserol. Variasi komposisi ini menjadi kunci untuk menganalisis keseimbangan optimal antara filler lignoselulosa (ampas kopi), serat penguat protein (rambut) (Mishra & Kim, 2024) dan plasticizer alami (minyak jelantah), yang merupakan pendekatan umum dalam optimasi material berkelanjutan (Zwawi, 2025).
HASIL PENELITIAN
Adapun hasil penelitian yang mendasari disusunnya naskah kebijakan ini diantaranya :
- Sifat Mekanik: formulasi 1 unggul dengan hasil uji tarik menunjukkan bahwa kekuatan tarik tertinggi (1,23 ± 0,07 kgf/mm²), diikuti formulasi 2 (1,11 ± 0,09 kgf/mm²) dan formulasi 3 (0,84 ± 0,14 kgf/mm²). Penurunan kekuatan tarik seiring peningkatan kandungan rambut dan minyak menunjukkan bahwa keseimbangan komposisi adalah kunci optimalisasi sifat mekanik;
- Analisis Morfologi (SEM): Homogenitas Menentukan Kekuatan formulasi 1 & 2: menunjukkan distribusi filler yang homogen, adhesi antarmuka kuat, dan porositas rendah. Formulasi 3: terdapat microvoids, aglomerasi serat, dan adhesi yang lemah, yang menjelaskan penurunan kekuatan tarik;
- Analisis Kimia (FTIR): Interaksi antarfase menguatkan material,
FTIR mengungkap adanya pergeseran pita serapan O-H (≈3380 cm⁻¹) dan C=O (≈1740 cm⁻¹), yang mengindikasikan terbentuknya ikatan hidrogen dan interaksi ester antara komponen limbah dengan matriks PVA. Interaksi ini berkontribusi langsung pada peningkatan kekuatan mekanik; - Komposisi Unsur (EDS): Konfirmasi Sumber Bahan Alami
EDS mendominasi unsur C (64,6–70,4%) dan O (27,4–34,9%), dengan peningkatan kandungan S seiring penambahan rambut (dari 0,2% menjadi 1,8%), mengonfirmasi keberhasilam integrasi keratin.
SIMPULAN
Biokomposit dari limbah rambut, ampas kopi, dan minyak jelantah terbukti layak diproduksi dan memiliki sifat mekanis yang memadai untuk aplikasi material ramah lingkungan. Keberhasilan ini ditentukan oleh:
1. Komposisi optimal (Formula 1) dengan dominasi ampas kopi;
2. Interaksi kimia yang kuat antara komponen limbah dan matriks;
3. Struktur morfologi yang homogen dan minim defek.
USULAN KEBIJAKAN
Berdasarkan temuan penelitian, beberapa langkah-langkah kebijakan strategis direkomendasikan sebagai berikut:
- Diperlukan integrasi sistem pengumpulan dan pengolahan limbah organik berbasis komunitas. Pemerintah daerah didorong membentuk kelompok pengelola limbah di tingkat kelurahan yang berfokus pada pemilahan dan pengumpulan rambut, ampas kopi, dan minyak jelantah dari salon, kedai kopi, dan rumah tangga. Dasar Kebijakan: Keberhasilan model pengelolaan limbah berbasis masyarakat, seperti Program CANTIK untuk minyak jelantah, telah terbukti meningkatkan partisipasi publik dan efektivitas pengumpulan (Ananta et al., 2024). Pendekatan serupa dapat direplikasi dan diintegrasikan untuk berbagai jenis limbah organik.
- Diperlukan skema insentif bagi pengembangan industri material hijau.
Berikan insentif fiskal (pajak, bea masuk) dan non-fiskal (hibah, akses pasar) bagi UMKM dan industri yang mengembangkan produk berbahan baku limbah, termasuk biokomposit. Dasar Kebijakan: Studi oleh Morici et al. (2022) menegaskan bahwa insentif ekonomi merupakan katalis penting untuk menciptakan pasar dan mendorong adopsi material berbasis limbah (green composites) dalam skala industri, sehingga mentransformasi limbah menjadi peluang ekonomi sirkular. - Diperlukan penguatan regulasi dan standarisasi material berkelanjutan.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Perindustrian perlu menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk biokomposit berbasis limbah dan mewajibkan penggunaannya dalam pengadaan barang pemerintah. Dasar Kebijakan: Standarisasi merupakan fondasi untuk menjamin kualitas, keamanan, dan kepercayaan pasar terhadap produk inovatif. Penelitian oleh Díez-Pascual, (2022) menyoroti perlunya kerangka regulasi yang jelas untuk mendorong penerapan biokomposit yang lebih luas dalam berbagai sektor industri. - Diperlukan program edukasi dan peningkatan kapasitas bagi pelaku usaha dan masyarakat. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta pemerintah daerah perlu mengintegrasikan pelatihan pengolahan limbah menjadi biokomposit dalam kurikulum vokasi dan program community development. Dasar Kebijakan: Peningkatan kesadaran dan kapasitas sumber daya manusia adalah kunci keberlanjutan. Program edukasi semacam ini sejalan dengan prinsip green chemistry dan ekonomi sirkular yang menekankan pentingnya literasi material berkelanjutan sejak dini (Laycock et al., 2023).
- Diperlukan pendanaan riset lanjutan dan pengembangan skala pilot.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi serta pemerintah daerah perlu mengalokasikan dana khusus untuk penelitian lanjutan biokomposit, termasuk uji aplikasi, life cycle assessment, dan pengembangan produk prototipe. Dasar Kebijakan: Transisi dari skala laboratorium ke skala komersial membutuhkan validasi tekno-ekonomi dan lingkungan yang rigor. Pendanaan yang difokuskan pada tahap hilir riset sangat kritikal untuk mematangkan teknologi, sebagaimana diidentifikasi dalam studi tentang pengembangan material berkelanjutan (Ingle et al., 2025).
Link Dokumen: https://drive.google.com/file/d/1HfzcgofWBZ01TxdpZ1scs_JIAVAySgtc/view?usp=sharing
Admin FST
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry








