Bitung, Sulawesi Utara — Upaya mengungkap keanekaragaman hayati laut dalam Indonesia kembali mencatatkan temuan penting melalui kegiatan eksplorasi gunung laut (seamount) di Laut Utara Sulawesi. Ekspedisi ini merupakan hasil kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Ocean Explorer (OceanX), yang dilaksanakan melalui pelayaran ilmiah dari Pelabuhan Bitung pada 5 - 25 Januari 2026.
Gunung laut yang hingga kini belum memiliki nama resmi tersebut memiliki karakteristik ekstrem, dengan kedalaman puncak laut (summit) 849,46 meter dan dasar gunung mencapai 4.363,11 meter. Kondisi ini menjadikannya salah satu lokasi penting untuk mempelajari ekosistem laut dalam yang masih sangat jarang tersentuh penelitian.
Ekspedisi ini melibatkan peneliti dari berbagai institusi nasional dan internasional, di antaranya BRIN, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Hasanuddin (UNHAS), University of Rhode Island, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), serta UIN Ar-Raniry. Kolaborasi lintas institusi ini memperkuat pendekatan multidisipliner dalam eksplorasi laut dalam Indonesia.
Pengamatan biota dan ekosistem laut dilakukan menggunakan kapal selam berawak Neptune dan Nadir untuk kedalaman hingga 1.000 meter, sementara eksplorasi pada kedalaman ekstrem 1.000–6.000 meter memanfaatkan remotely operated vehicle (ROV). Teknologi ini memungkinkan pengambilan data visual dan sampel biologi tanpa merusak lingkungan laut dalam yang rapuh.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa zona puncak dan lereng atas (upper slope) pada kedalaman 750–850 meter memiliki keanekaragaman hayati yang lebih tinggi dibandingkan bagian dasar gunung laut. Di wilayah ini ditemukan berbagai organisme laut seperti ikan laut dalam, udang, kepiting, terumbu karang laut dalam, hingga mikroorganisme.
Menariknya, sejumlah hewan laut ekstrem seperti kepiting dan udang laut dalam umumnya berwarna putih, menandakan adaptasi terhadap kondisi minim cahaya. Sementara itu, ikan laut dalam banyak dijumpai dengan bentuk tubuh memanjang, yang diduga berkaitan dengan strategi bertahan hidup di lingkungan bertekanan tinggi.
Pada dasar gunung laut, kondisi ekosistem cenderung lebih gersang. Meski demikian, para peneliti tetap menemukan sejumlah spesies unik seperti teripang, bulu babi, spons laut, gurita dumbo, hingga ubur-ubur laut dalam, yang memperlihatkan kemampuan adaptasi luar biasa terhadap tekanan ekstrem dan suhu yang sangat rendah.
Temuan ini menegaskan bahwa gunung laut di Laut Utara Sulawesi merupakan habitat penting bagi organisme laut dalam, sekaligus menjadi titik ekosistem langka yang tidak banyak dijumpai di dunia. Oleh karena itu, para peneliti menekankan perlunya kebijakan khusus dan upaya perlindungan lingkungan untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini, terutama mengingat tingginya aktivitas manusia di perairan sekitarnya.
Admin FST
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry








