Banda Aceh – Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang penerapan nilai-nilai syariat, termasuk menjaga penggunaan air agar tidak berlebihan atau israf.
Hal tersebut disampaikan Saiful Hadi, laboran Arsitektur UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam Dialog Kajian Islami RRI Banda Aceh, Jumat, 18 September 2026. Dalam dialog bertema “Arsitektur Islam: Membangun Peradaban, Menjaga Kearifan, dan Merawat Lingkungan”, ia menjelaskan bahwa nilai arsitektur Islam tidak hanya diwujudkan melalui bentuk dan ornamen, tetapi juga melalui sistem bangunan yang mendukung penerapan syariat.
Salah satu contohnya adalah fasilitas wudu. Islam mengajarkan penggunaan air secara secukupnya. Karena itu, desain masjid dapat membantu mencegah pemborosan melalui penggunaan keran hemat air dengan pembatas debit, sekaligus merancang sistem pengelolaan air sejak awal.
Air bekas wudu juga dapat dipisahkan dari limbah toilet melalui saluran khusus, kemudian dikumpulkan dan diolah untuk memungkinkan pemanfaatan kembali. Dalam konteks ini, pertimbangan fikih, termasuk pembahasan air musta'mal dan konsep dua qullah dalam mazhab Syafi'i, dapat menjadi salah satu referensi dalam merancang sistem penampungan dan pengelolaan air.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat diterjemahkan secara nyata ke dalam desain bangunan. Keran hemat air, pemisahan saluran, sistem filtrasi, dan penampungan merupakan contoh bagaimana prinsip tidak berlebih-lebihan dapat diwujudkan dalam arsitektur.
Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga dapat menjadi contoh bangunan yang mengajarkan perilaku hemat sumber daya dan kepedulian terhadap lingkungan. Syariat dan arsitektur berkelanjutan dapat berjalan beriringan melalui desain yang tepat.
Admin ARS
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry








