Banda Aceh (Media FST Ar-Raniry) – Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar kegiatan workshop jaring pendapat dan masukan dari para pemangku kepentingan (stakeholder) dalam rangka penyusunan Rencana Strategis (Renstra) FST 2025–2030. Kamis, 22 Oktober 2026 di Ruang Rapat Dekan FST pukul 08.30 hingga 12.30 wib.
Kegiatan yang digagas oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kelembagaan Dr. Abd Mujahid Hamdan ini, menjadi wadah dialog antara Pimpinan FST, Ketua Prodi, Kepala Laboraturium dan Ketua GJM dengan mitra eksternal yang dihadiri oleh PERHAPI Aceh, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Aceh, BBPOM Banda Aceh, Forum Konservasi Leuser (FKL), TVRI Aceh, Dinas Komunikasi, Informasi dan Persandian (Diskominsa), untuk menyelaraskan arah pengembangan fakultas dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan industri, serta permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat Aceh.
Kegiatan dibuka oleh Dekan FST UIN Ar-Raniry, Prof. Habiburrahim, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh stakeholder. Ia menegaskan bahwa Renstra berperan penting dalam pengembangan fakultas dan peningkatan mutu serta akreditasi program studi. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai lembaga perlu diperkuat melalui program sertifikasi, magang, dan rekrutmen lulusan. Dekan juga menekankan pentingnya riset berdampak bagi masyarakat, salah satunya melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam pengembangan kampung digital.
Ia berharap pertemuan ini dapat menyelaraskan kebutuhan kompetensi dunia kerja, potensi kolaborasi, serta isu-isu prioritas di Aceh yang dapat ditangani melalui riset dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sesi penjaringan pendapat, PERHAPI, melalui Muhammad Hardi, menyoroti peningkatan soft skills, integrasi sertifikasi ke dalam kurikulum, serta penguatan program magang dan KKP agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja.
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Aceh, melalui Wakil Ketua Muhammad Anshar, mendorong pengenalan Pendidikan Profesi Arsitek (PPA), pelibatan praktisi dalam perkuliahan, serta kolaborasi pengabdian kepada masyarakat dan penguatan kompetensi desain yang berorientasi pada keberlanjutan.
Perwakilan BBPOM, Wina Astari Putri, menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa Biologi dan Kimia dalam mengikuti program magang, penguasaan standar kerja, serta kejelasan SOP dan target kegiatan. BBPOM juga membuka peluang kolaborasi penelitian bersama dosen dan mahasiswa.
Sementara itu, Forum Konservasi Leuser (FKL), melalui Ibnu Hasyem, mendorong peningkatan kompetensi pemetaan dan data spasial, kemampuan kerja lapangan, serta kolaborasi riset di bidang konservasi, termasuk bioakustik dan pengembangan fasilitas laboratorium pendukung penelitian satwa.
Perwakilan TVRI Aceh, Ridwan Syarif, menyampaikan peluang kerja sama penelitian di bidang akustik studio, redesain ruang siaran, pemeliharaan peralatan, dan program magang bagi mahasiswa, khususnya dari Program Studi Teknologi Informasi, Arsitektur, dan Teknik Fisika.
Dari Diskominsa Aceh, Fesrianevalda menekankan penguatan kompetensi teknis, soft skills, pengelolaan data center, dan praktik keamanan siber. Sementara itu, Ari H. Akbar menyoroti pembentukan karakter, kemampuan analisis masalah, sertifikasi kompetensi, serta pengembangan website atau aplikasi pengaduan isu-isu Aceh sebagai peluang kolaborasi dan topik penelitian mahasiswa.
Berbagai masukan tersebut menjadi bahan pertimbangan FST dalam merumuskan arah transformasi fakultas periode 2025–2030, terutama dalam penguatan kurikulum berbasis kebutuhan stakeholder, peningkatan kompetensi lulusan, perluasan program magang, serta pengembangan riset kolaboratif yang berdampak.
Melalui kegiatan ini, FST UIN Ar-Raniry Banda Aceh berharap sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, lembaga profesi, pemerintah, dan mitra lainnya semakin kuat untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berdaya saing serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dan masyarakat Aceh.
Admin FST
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry







