Banda Aceh — Dalam rangka memperluas wawasan mahasiswa terhadap isu perubahan iklim dan teknologi dekarbonisasi global, Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh sukses menyelenggarakan Guest Lecture Webinar bertajuk "Teknologi Carbon Capture, Utilisation and Storage (CCUS): Konsep Dasar dan Perkembangannya Saat Ini" pada Sabtu, 18 April 2026, pukul 14.00 WIB melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini merupakan bagian dari program akademik yang didukung oleh BLU, Kemenag Berdampak, dan Diktisaintek Berdampak.
Profil Narasumber
Webinar ini menghadirkan narasumber istimewa, Afri Dwijatmiko, S.T., seorang Perekayasa Ahli Pertama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang saat ini juga sedang menempuh pendidikan Master's Candidate dalam bidang Chemical Engineering for Energy and Environment di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. Ia merupakan lulusan Teknik Kimia dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tahun 2017 dengan rekam jejak penelitian yang kuat di bidang energi dan dekarbonisasi. Penelitiannya di BRIN secara khusus berfokus pada identifikasi potensi implementasi CCUS di Indonesia dan pengembangan metode Direct Air Capture skala kecil pada 2023–2024, serta telah menghasilkan beberapa publikasi internasional yang terindeks di jurnal Evergreen dan AIMS Energy.
Webinar dipandu oleh Ir. Muhammad Haikal, S.T., M.Sc. selaku host dari Prodi Teknik Lingkungan UIN Ar-Raniry.
Urgensi CCUS di Era Net Zero Emissions
Paparan diawali dengan latar belakang krisis iklim global, mengacu pada data emisi IPCC 2022 dan kontribusi Indonesia terhadap emisi gas rumah kaca. Indonesia memiliki total konsumsi energi final sebesar 2.007 juta BOE pada tahun 2024, dengan sektor pembangkit listrik yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga target Net Zero Emissions (NZE) 2060 menjadi tantangan besar yang membutuhkan solusi teknologi inovatif seperti CCUS. Upaya dekarbonisasi yang dipaparkan mencakup empat jalur utama: clean fuels, efisiensi energi, carbon capture, dan transisi ke energi terbarukan.

Mengenal Teknologi Carbon Capture
Afri menjelaskan bahwa Carbon Capture adalah metode mitigasi perubahan iklim yang menangkap emisi CO₂ dari gas buang sebelum dilepas ke atmosfer. Beberapa teknologi utama yang dibahas meliputi:
Chemical Absorption (Amine-based Solvent) — teknologi paling matang saat ini menggunakan larutan amine 25–30% dengan CO₂ capture rate di atas 90%, namun membutuhkan energi untuk regenerasi pelarut
Adsorption-based Carbon Capture — menangkap CO₂ pada permukaan padatan berpori; keunggulannya adalah energi regenerasi lebih rendah dan selektivitas CO₂ tinggi
Membrane Carbon Capture — menawarkan biaya penangkapan hingga 30% lebih rendah dibanding teknologi amina konvensional, namun masih dalam Technology Readiness Level (TRL) rendah
Direct Air Capture (DAC) — teknologi modular yang dapat menangkap CO₂ langsung dari udara ambien dan ditempatkan di mana saja; salah satu pionirnya adalah Climeworks dengan instalasi Mammoth Plant di Islandia yang diresmikan Mei 2024
Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS) — teknologi negative emission yang menggabungkan biomassa dengan penyimpanan karbon

Carbon Utilisation: CO₂ sebagai Peluang Industri
Paparan yang sangat menarik juga menyentuh dimensi Carbon Utilisation, yakni pemanfaatan CO₂ yang telah ditangkap sebagai bahan baku industri kimia — mengubah CO₂ dari "masalah" menjadi "peluang". Berbagai produk yang dapat dihasilkan antara lain cyclic carbonates (elektrolit baterai lithium-ion), polimer, jet fuel sintetis, asam formiat, hingga bahan bakar alkohol tinggi. CO₂ juga dapat dimanfaatkan secara langsung (non-transformative) di sektor minuman, pendinginan pangan, fire suppression, industri logam, pertanian, kesehatan, dan enhanced oil recovery.
Carbon Storage: Menyimpan Emisi di Bawah Bumi
Untuk penyimpanan, metode Geological Storage dijelaskan sebagai yang paling matang saat ini — CO₂ dikompresi menjadi fluida superkritis lalu diinjeksikan ke dalam formasi geologi dalam seperti saline aquifer, reservoir minyak dan gas yang sudah habis, atau batuan basalt. Selain itu, Oceanic Sequestration menawarkan kapasitas penyimpanan besar hingga 10.000 GtCO₂, sementara Biological Sequestration memanfaatkan proses alami fotosintesis oleh tanaman, hutan, dan mikroalga.

Relevansi bagi Mahasiswa Teknik Lingkungan
Kegiatan ini sangat relevan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan yang akan menghadapi tantangan pengelolaan lingkungan di era transisi energi. Pemahaman mendalam tentang CCUS membuka wawasan bahwa permasalahan lingkungan — khususnya emisi karbon — tidak hanya bisa dimitigasi, tetapi juga diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tinggi. Prodi Teknik Lingkungan UIN Ar-Raniry berkomitmen untuk terus menghadirkan pakar dan praktisi dari lembaga riset nasional dan internasional demi mendorong kualitas pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu dan teknologi global.
Admin Prodi Teknik Lingkungan
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry








