Banda Aceh (FST Ar-Raniry) - Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry menggelar diskusi publik bertajuk “Gajah Sumatera: Harapan di Tengah Krisis” pada hari Rabu, tanggal 27 Agustus 2025, di Aula Fakultas Sains dan Tekonologi. Acara ini terselenggara atas kerja sama dengan Mongabay Indonesia serta menghadirkan narasumber hebat dari berbagai latar belakang.
Narasumber yang hadir adalah Munawar, S.H (Kasubat BKSDA Aceh), Junaidi Hanafiah (Jurnalis Mongabay), Dr. Muslich Hidayat, M.Si (Kaprodi Biologi UIN Ar-Raniry), dan Iskandar Norman (Pemerhati Sejarah). Kehadiran para pakar dan praktisi ini diharapkan mampu memberikan sudut pandang komprehensif terkait krisis populasi gajah sumatera sekaligus peluang upaya konservasi yang bisa dilakukan.
Selain diskusi publik, acara ini juga akan dirangkaikan dengan launching buku terbaru berjudul “Kisah Gajah Sumatera”, oleh Jurnalis Mongabay Junaidi Hanafiah. Buku tersebut menyoroti perjalanan hidup gajah sumatera, tantangan yang mereka hadapi akibat konflik dengan manusia, serta pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestariannya.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan I Prof. Habiburrahim, mengucapkan terima kasih kepada para nara sumber yang sudah meluangkan waktu untuk mengisi kegiatan ini, serta apresiasi setinggi-tingginya kepada para narasumber, penulis, aktivis, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini.
"Di tengah situasi yang kritis ini, harapan tetap ada, harapan yang lahir dari kolaborasi, riset ilmiah, kebijakan yang berperspektif lingkungan, serta kesadaran kolektif masyarakat. Dan acara ini adalah salah satu manifestasi dari harapan tersebut. Sebagai bagian dari institusi akademik, kita memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk terus menghadirkan ruang-ruang diskusi, riset-riset strategis, serta kebijakan berbasis ilmu pengetahuan demi kelestarian alam kita". ungkapnya.
Munawar, S.H dari BKSDA Aceh, Narasumber pertama membahas tentang “Menjaga Gajah Sumatera dalam Krisis Habitat dan Harapan Konservasi”. Dalam paparannya, Munawar, S.H., menjelaskan bahwa saat ini populasi gajah sumatera di Aceh diperkirakan hanya tersisa 507–601 ekor. Ia memaparkan bahwa konflik manusia-gajah terus meningkat, tercatat ratusan kasus interaksi negatif dalam lima tahun terakhir. Menurutnya, berbagai langkah konservasi telah ditempuh, di antaranya pemasangan GPS collar untuk memantau pergerakan gajah, pembangunan pagar kejut (power fencing) dan parit sebagai penghalang, serta penanaman komoditas alternatif yang tidak disukai gajah untuk mengurangi potensi konflik dengan masyarakat.
Dilanjutkan dengan Narasumber kedua yaitu Iskandar Norman sebagai pemerhati sejarah, yang membahas tentang “Biramsattani Gajah Kesultanan Aceh”. Jurnalis pemerhati sejarah, adat, dan budaya Iskandar Norman menjelaskan bahwa gajah memiliki tempat istimewa dalam sejarah Kesultanan Aceh. Hewan ini dikenal dengan berbagai sebutan lokal seperti Pomeurah, Tuwan Meurah, Sranggong, Pobeuransah, Teuku Rayeuk, Tanoh Manyang, hingga Popeudah. Gajah juga dibagi dalam empat jenis, yakni Mudam, Bugam, Siawang, dan Keng, dengan fungsi berbeda mulai dari pengiring raja hingga gajah perang.
Salah satu yang paling terkenal adalah Biramsattani, gajah putih dari Negeri Linge yang menjadi tunggangan Sultan Iskandar Muda saat penobatannya pada 1607 M. Catatan sejarah dari penjelajah asing menyebutkan Kesultanan Aceh pernah memiliki hingga seribu ekor gajah perang yang terlatih. Peran besar gajah dalam tradisi Aceh itu masih terasa hingga kini, ketika gajah putih Biramsattani dijadikan lambang Kodam Iskandar Muda sejak 1946, yang melambangkan sifat rakyat Aceh: setia, patuh, dan menjunjung kekeluargaan.
Junaidi Hanafiah (nara sumber ketiga) sebagai Jurnalis Mongabay yang memperkenalkan buku terbarunya berjudul “Kisah Gajah Sumatera”, Buku tersebut menyoroti perjalanan panjang hubungan manusia dan gajah yang mengalami perubahan, dari masa “saling menghormati”, “saling menguntungkan”, hingga kini sering kali berujung pada “saling meniadakan” akibat deforestasi, alih fungsi lahan, dan konflik manusia–satwa. Tak hanya memotret masalah, buku ini juga menampilkan kearifan lokal, sejarah peran gajah dalam kerajaan-kerajaan besar, hingga upaya pelestarian. Mongabay berharap karya ini dapat meningkatkan kesadaran publik dan mendorong aksi nyata dalam menyelamatkan gajah Sumatera yang kini berstatus kritis. Ujar Junaidi
Ketua Prodi Biologi Dr. Muslich Hidayat, M.Si, (nara sumber keempat) memaparkan materi tentang “Pendekatan Ekoteologi Islam dalam Konservasi Gajah Sumatera dan Habitatnya di Aceh”. Ia menjelaskan bahwa gajah Sumatra saat ini berstatus Critically Endangered menurut IUCN, dengan kehilangan 69% habitat dalam 25 tahun terakhir. Data BKSDA Aceh mencatat 761 konflik manusia-gajah terjadi pada 2019–2024, menunjukkan meningkatnya tekanan akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan, tambang, dan pemukiman.
Menurut Muslich, dahulu gajah adalah simbol kebesaran Sultan dan aset negara yang dikelola melalui struktur kerajaan. Kini, akibat runtuhnya sistem tradisional dan fragmentasi habitat, hubungan manusia-gajah berubah menjadi konflik. Dalam perspektif Islam, ekoteologi menegaskan manusia sebagai khalifah di bumi yang wajib menjaga keseimbangan (mizan), kasih sayang (rahmah), dan tidak merusak (fasad). Dengan landasan hukum seperti Qanun Aceh serta kolaborasi multipihak, ia menekankan bahwa konservasi gajah adalah tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial demi keberlanjutan lingkungan. Lanjut Muslich
Diskusi ditutup dengan suasana hangat, di mana peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan kepada para pemateri. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu pelestarian gajah Sumatera masih menjadi perhatian besar sekaligus harapan bersama di tengah krisis yang dihadapi satwa endemik ini. Acara ini diharapkan kegiatan ini menjadi momentum meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong lahirnya aksi nyata dalam upaya pelestarian gajah sumatera di Aceh dan Sumatera secara umum.
Admin FST
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry








