Banda Aceh (FST Ar-Raniry) - Asti Farhani Octavianty, S.T. Alumni Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kini berkiprah di Badan Pertanahan Nasional (BPN), ia terlibat aktif dalam program Reforma Agraria yang digagas oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya pemerataan kepemilikan dan pengelolaan lahan di Indonesia.
Reforma Agraria Nasional merupakan program strategis yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan penguasaan tanah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penataan aset dan akses. Dalam program ini, peran ahli lingkungan sangat krusial untuk memastikan bahwa redistribusi lahan dan pemanfaatannya tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Menjadi bagian dari instansi sebesar BPN bukanlah sesuatu yang sejak awal direncanakan oleh Asti. Namun sejak kuliah, ia sudah menaruh perhatian pada isu-isu tata ruang, pengelolaan lahan, serta pemberdayaan masyarakat - terutama dalam konteks pembangunan berkelanjutan.
“Saat kuliah saya sering terlibat dalam kegiatan sosial dan penelitian lapangan. Dari sana saya melihat langsung bagaimana persoalan agraria berdampak besar terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat,” tutur Asti.
Ketertarikan itulah yang menuntunnya untuk memahami bahwa pengelolaan pertanahan yang baik bukan sekadar soal batas lahan dan legalitas, melainkan juga tentang keberpihakan, keadilan, dan keberlanjutan. Maka ketika kesempatan berkarier di BPN terbuka, ia pun mantap melangkah.
Kini, Asti bertugas di Bagian Penataan dan Pemberdayaan. Ia terlibat langsung dalam program Reforma Agraria, sebuah agenda strategis nasional yang menyasar pada distribusi dan pengelolaan tanah bagi masyarakat.
Mulai dari menyusun rencana kegiatan, memetakan subjek dan objek penerima tanah, melakukan validasi data, hingga membangun koordinasi antarinstansi, semuanya menjadi bagian dari rutinitasnya. Namun tentu saja, tantangannya tidak ringan.
“Seringkali data antara kepemilikan tanah dan status hukum tidak sinkron. Belum lagi minimnya partisipasi masyarakat dan kurangnya koordinasi antar lembaga,” jelasnya.
Namun berbekal ilmu yang diperolehnya di Teknik Lingkungan, Asti mampu menghadapi itu semua dengan pendekatan yang sistematis dan solutif. Ia menyebutkan bahwa pemahaman tentang tata ruang, SIG (Sistem Informasi Geografis), serta kemampuan komunikasi dan problem solving menjadi senjatanya di lapangan.
Bagi Asti, masa kuliah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga tempat menempa karakter dan keterampilan yang ia bawa hingga kini.
“Saya sangat bersyukur dengan kurikulum dan pengalaman lapangan selama di Teknik Lingkungan UIN Ar-Raniry. Itu membentuk perspektif saya dalam bekerja,” ungkapnya.
Ia juga mengajak mahasiswa aktif untuk membekali diri tidak hanya dengan ilmu teknis, tetapi juga dengan kemampuan adaptasi, kepekaan sosial, dan semangat belajar sepanjang hayat.
“Di dunia yang terus berubah, ilmu tidak pernah berhenti. Jadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk berkembang. Keingintahuanmu akan membuka jalan menuju solusi inovatif yang berdampak positif,” pesannya penuh semangat.
Kisah Asti adalah bukti bahwa lulusan Teknik Lingkungan UIN Ar-Raniry mampu tampil di ruang-ruang strategis, membawa semangat perubahan dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dari kampus di Banda Aceh hingga instansi pemerintah pusat, ia membuktikan bahwa kerja profesional adalah juga bentuk pengabdian.
Admin FST
Content Writer at FST UIN Ar-Raniry








